Searching...
Sabtu, 24 Maret 2012

Di Ujung Senja

Cerita ini merupakan lanjutan dari rangkaian tulisan-tulisan sebelumnya yaitu :
- Si Katrok kedatangan Tamu Jauh
- Antara Jani, Tidak Peduli dan Kesepakatan Baru
- Kudu Siaga Setiap Saat
- Menjadi Guide Istimewa

Nah pas cerita terkahir kemarin adalah foto-foto di depan Museum Geologi.

Setelah acara foto-foto tersebut selesai kami langsung bergegas menuju ke lokasi berikutnya, Museum Asia Afrika. Semula aku hanya ingin mengajak sahabat saya foto-foto di luar museum namun setelah sampai di sana sahabat saya penasaran ingin tahu apa sih isi dari Museum Asia Afrika ini?

Melihat museum dengan kondisi yang lengang saya tidak yakin kalo museum itu masih buka. Pan tau sendiri Museum Geologi aja buka sampai jam 2 siang saja. Hmmm "jangan berlayar kalau kau takut gelombang", sebuah petikan kata-kata Abi dalam film "Tak Biasa". Trus apa hubungannya coba? hahaha saya juga tidak tahu.

Setelah memarkir motor kami menuju museum yang kayaknya ogah-ogahan menyambut tamu. Bayangkan saja tidak ada pintu selamat datang atau apalah yang menandakan bahwa museum tersebut itu buka untuk umum. Ini berbeda dengan ketika ada "Fesetival Braga" beberapa waktu lalu dimana pintu dibuka lebar-lebar sehingga banyak pengunjung yang masuk.

Seperti petikan kalimat di atas kami memberanikan diri untuk bertanya pada seorang tukang yang ada di luar museum, "Pak museum ini buka sampai jam berapa yah?". "Bukanya sampai jam 5 sore mas", jawab pak tukang. "Terus pintu masuknya dari mana?", tanya lagi. Tukang pun menjawab, " Itu sebelah kiri terus aja sampai pagar habis di sana ada pintu. Buka dorong saja". "Oke nuhun pak".Kami pun bergegas mengikuti arahan pak tukang tersebut.

Sambil menuju pintu yang masuk saya mencoba menjelaskan tentang apa itu Museum Asia-Afrika kepada sahabat saya. Ketika kami sampai ke depan pintu kwok kwok kwoooooook pintunya tertutup rapat tapi setelah kami buka ada seorang satpam yang berdiri dekat pintu. Masuk beberapa langkah di sebelah kiri ada penerima tamu. Seperti di Museum Geogologi gitu deh. Tulis nama, asal dan tanda tangan, GARAAAAAAAAATIS POKOKE lah.

Di dalam ada sekawanan siswa yang sedang menyimak seorang guide yang dengan semangat menceritakan sejarah Konferensi Asia-Afrika mulai dari podium dan mimbar yang menurutnya asli sebagai saksi sejarah. Disi lain saya sahabat saya ikut mencuri-curi pandang ke araha siswa-siwas tersebut sembari menyimak penjelasan dari bapak guide.

Sekumpulan siswa tersebut terus mengikuti kemana langkah sang guide, namun kami perlahan menyisih ke lorong tengah. Di lorong tersebut terpajang bendera-bendera negara peserta Konferensi Asia-Afrika. Kami sempatkan untuk mengabadikannya salah satunya adalah foto di bawah ini. Tulisan "Toilet Wanita"nya anggap saja tidak ada yah,hehehe
Di sini saya menjelaskan kepada sahabat saya tentang negara-negara mana saja yang hadir, padahal saya tidak hafal. Puas dari sisi sini, kami menuju ke bagian tengah dimana disana terpajang foto tokoh-tokoh dari negara-negara peserta dan momen-momen saat konferensi Asia-Afrika berlangsung. Kami juga sempatkan untuk mendengarkan sejenak pidato Bung Karno dengan sekali sentuh saja. Kami pun menyusuri sisi-sisi lainnya.

Setelah menuju ke tempat semula ketika pertama masuk, kami dianjurkan untuk melihat ruangan dimana Konferensi Asia-Afrika dulu berlangsung. Wuiiih lumayan luas tempatnya. Kalo saya gambarkan mirip ruang di gedung MPR kali yah.

Nih sedikit foto yang bisa saya tampilkan:
Ada 4 sekawan siswa SMA minta dipotoin

Nampah ah di depan mimbar

Yah sahabat saya ini salah nunjuk lambang bendera negaranya

Setelah menyusuri sisi-demi sisi, sudut demi sudut museum, kamipun meninggalkan museum tersebut.

Lokasi berikutnya adalah Terminal Bus Leuwipanjang, go go go.... Buset maaracet euy...mana lagi panas pula :).

Sesampai di Leuwipanjang kami menuju toko oleh-oleh langganan saya untuk membeli Pisang Sale. Seperti biasa, kalo agak laper cari gratisan dulu sebelum beli. Di sini memang para calon pembeli dimanjakan dengan kebebasan untuk menyicipi setiap makanan yang dijajakan mulai dari pisang sale, keripik tempe, dodol dan jajanan-jajanan lainnya. 3 kilo bungkuuuus dah. Perjalananpun dilanjutkan ke Dipati Ukur.

Di Dipati Ukur kami sempatkan untuk makan Sate Padang. Ternyata sahabat saya ini belum pernah makan sate padang sebelumnya. "Enak ternyata tapi pedas yah mas". Kami juga sempatkan untuk foto-foto di depan Monumen Perjuangan Rakyat. Sayangnya tidak dapat foto di lokasi karena waktu yang sudah mepet dengan jadwal keberangkatannya ke Jakarta padahal saya yakin sekali sahabat saya ini ingin sekali masuk ke lokasi monumen lebih dekat lagi. Lepas dari monumen langsung menuju travel yang akan mengantarkannya ke Jakarta. :) sehari have fun bareng dengannya bahagia rasanya.
"Hati-hati di jalan yah."
"Makasih untuk semuanya yah mas."
Dadah dadah....






 
Back to top!